[ Selasa, 26 Mei 2009 ]
Melihat Semangat Petani dalam Meningkatkan Kualitas Tembakau
Buat Pupuk Organik, Bibit Gratis dari Pemkab
Banyak langkah yang dilakukan petani tembakau dan juga pemkab demi menggenjot dan mempertahankan kualitas. Termasuk, dalam upaya meninggikan harga jual.
NADI MULYADI, Pamekasan
---
SETIAP menjelang musim panen, sebagian besar petani tembakau khawatir terhadap harga jual hasil panen nantinya. Sebab, kualitas tembakau mereka bisa diketahui setelah dipanen dan rajang. Sebelumnya, hanya sebatas prediksi.
Kini, permasalahan tahunan itu tidak hanya menjadi rutinitas. Sebagian besar petani mulai menjadikan beberapa kenangan pahit masa lalu sebagai pelajaran berharga. Mereka juga mulai berfikir maju dengan melakukan proyeksi mengatasi persoalan.
Seperti yang dilakukan kelompok tani (poktan) Jaya Kusuma Desa Peltong dan gabungan kelompok tani (gapoktan) Larangan Luar, Kecamatan Larangan. Dalam rangka mengantisipasi kekurangan pupuk kimia, mereka belajar membuat pupuk organik.
Pembuatan pupuk organik yang berasal dari bahan natural termasuk kompos tersebut, melibatkan semua anggota. Sedangkan sistemnya dengan kerja gotong royong, baik tenaga maupun bahan bakunya.
"Sejumlah pelatihan yang kami ikuti, pupuk organik khasiatnya ternyata lebih bagus dibanding pupuk kimia. Selain itu, kita bisa memanfaatkan kekayaan alam yang ada. Sekaligus mempertahankan kualitas tembakau Madura," kata Sekretaris Gapoktan Larangan Luar Sunairi.
Petani bersemangat memanfaatkan pupuk organik, alasannya, selama ini sebagian besar petani bergantung pada pupuk kimia. Sedangkan pupuk yang alami terkesan diabaikan. "Modal sedikit, manfaat lebih besar," katanya.
Pemkab melalui instansi terkaitnya, terkesan tidak mau ketinggalan. Untuk memenuhi kualitas yang dibutuhkan pabrikan rokok, pemkab menyediakan benih dan menyebar bibit gratis ke seluruh desa yang tersebar di 13 kecamatan.
"Jenis yang paling dibutuhkan pabrikan itu ada dua jenis. Yakni, jenis prancak 95 dan jenis cangkring. Dua jenis itu yang kami sebar secara gratis," kata Suharto, salah staf dishutbun kemarin.
Meski jumlah bibit dan benih yang disebar masih relativ tidak sesuai dengan kebutuhan, dishutbun berharap kualitas panen tembakau Pamekasan masih memenuhi standar pabrikan.
"Tiap kecamatan, kami menyediakan sekitar 9 juta bibit atau setengah hektare. Sedangkan untuk benihnya kami membagikan sekitar 15 kilogram per kecamatan," pungkasnya. (*/zid/rd)