Kamis, 02 September 2010
 
   Radar Madiun
[ Senin, 20 April 2009 ]
Jadikan Porang sebagai Ikon Madiun
MADIUN - Perum Perhutani KPH (Kesatuan Pemangku Hutan) Madiun bertekad menjadi porang sebagai salah satu ikon Kabupaten Madiun. Itu sebabnya, perhutani setempat gencar membina masyarakat pinggir hutan untuk pengelolaan lahan yang ditanami porang.

Tidak hanya itu, tanaman dengan nama latin amorphophallus onchophyllus tersebut, juga sudah go international. ''Tanaman porang ini memiliki kandungan bahan pangan, yang sangat digemari masyarakat Jepang,'' kata Administratur KPH Madiun, Budi Setyono, kepada koran ini, kemarin (19/4).

Guna mencapai target sebagai ikon Madiun dan memenuhi pasar ekspor, pihak KPH Madiun memanfaatkan lahan perhutani seluas 5.918 hektare untuk budidaya tanaman porang. Hingga saat ini, baru 21.82 persen dari 27.528 hektare lahan milik perhutani yang termanfaatkan.

Menurut Budi Setyono, dengan pemberdayaan masyarakat pinggiran hutan, maka sosial ekonomi warga setempat akan terangkat. Sebab, bahan olahan porang ini, selain orientasi ekspor juga untuk mencukupi pasar lokal. Khusus untuk ekspor ke Jepang, tanaman ini diolah menjadi makanan konyaku (sejenis tahu) serta shirataki, yang berbentuk seperti mie basah. ''Porang itu tidak bisa langsung dimakan, tapi harus diolah terlebih dahulu,'' jelasnya.

Sedangkan cara pembudidayaan porang tersebut, bisa melalui dua cara. Yakni, pengembangan vegetatif, dilakukan dengan menanam langsung umbi porang. Serta generatif, yakni dengan penanaman biji dan ubi tetas atau bisa disebut bubil (katak). ''Pada waktu penanaman perdana, porang baru bisa dipanen tiga tahun kemudian,'' papar Budi.

Penghasilan yang diperoleh petani pada satu kali panen, yakni setiap bulan Juni, petani mampu meraup keuntungan bersih hingga Rp 5,5 juta, dari hasil tanam seluas 2.043 hektare. ''Data ini kami rekap pada akhir tahun 2007 lalu, untuk tahun kemarin laporan masih dalam proses,'' imbuhnya.

Kendati demikian menurut Budi, tanaman jenis umbi tersebut, tidak bisa tumbuh pada sembarang jenis tanah. Tumbuhan ini jika ditanam pada lahan datar, maka lahan tersebut harus diolah terlebih dahulu. Yakni, dengan dibuatkan guludan, atau timbunan tanah dengan tinggi 0,25 meter, dan lebar 0,5 meter. Jika pada jenis lahan miring, tanah cukup dilobangi dan diberi bibit porang.

Akan tetapi tanaman produk lokal, seperti halnya porang ini akan tumbuh secara maksimal, jika ditanam pada tanah yang tidak becek. Serta ditanam dibawah pohon naungan, seperti Jati, Mahoni dan Sono. ''Jenis tanaman porang, tidak terlalu memerlukan bantuan cahaya matahari,'' pungkasnya. (rgl/rif)