Sabtu, 31 Juli 2010
 
[ Jum'at, 17 Juli 2009 ]
Wali Kota Surabaya Siap Bertanggung Jawab
Buntut Tragedi MOS SMAN 16

SURABAYA - Wali Kota Surabaya Bambang D.H. siap bertanggung jawab atas kematian siswa SMAN 16 Roy Aditya Perkasa saat mengikuti MOS (masa orientasi siswa). Dia bahkan siap menerima gugatan dari pihak keluarga korban. Pemkot juga tak berkeberatan jika MOS dihapus dari agenda kegiatan menyambut siswa baru di sekolah.

''Tidak ada masalah jika keluarga menuntut. Baik kepada kepala sekolah, kepala dinas (pendidikan), termasuk saya. Saya siap. Sebab, ini memang sudah konsekuensi,'' tegas Bambang di Gedung Juang 45 kemarin (16/7).

Dia menyatakan, jika nanti sekolah diketahui melakukan kesalahan, dirinya tak akan berusaha melindungi. Artinya, polisi dipersilakan memproses kepala sekolah secara pidana. ''Kan sudah ada pasalnya,'' ucap suami Dyah Katarina itu.

Bambang menegaskan, setelah mendapat laporan adanya siswa SMAN 16 yang meninggal saat MOS, dirinya langsung memerintah Inspektorat Kota Surabaya untuk turun tangan. Mereka akan menelusuri apakah ada kesalahan prosedur dalam kegiatan sekolah itu atau tidak.

Nah, untuk yang satu ini, jika memang ada pelanggaran, yang melanggar pasti dikenai sanksi administratif. ''Sanksinya tanyakan saja ke Pak Hadi (Hadi Siswanto, kepala Inspektorat Kota Surabaya, Red),'' papar mantan ketua DPC PDIP Surabaya tersebut.

Pihak sekolah memang belum divonis bersalah atas kejadian itu. Namun, Bambang menyatakan bahwa dirinya tak berkeberatan jika MOS dihapus dari agenda rutin kegiatan sekolah. ''Bisa saja begitu,'' ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Surabaya Sahudi kemarin langsung menurunkan tim khusus untuk menyelidiki kasus meninggalnya salah seorang siswa SMAN 16 dalam MOS tersebut. Hasilnya, tim menyatakan tidak ada pelanggaran oleh sekolah selama MOS.

Tim khusus tersebut bertugas memastikan apakah sekolah sudah melaksanakan surat edaran yang diberikan Dispendik. Surat edaran itu berisi poin-poin pelaksanaan dalam MOS. Termasuk, larangan melakukan kekerasan dan menugasi siswa membawa hal-hal yang sulit didapatkan.

Setelah menerima laporan dari tim, Sahudi menyatakan bahwa SMAN 16 bersih. MOS dilaksanakan sesuai jadwal yang ditentukan, yakni selesai pukul 13.00. ''Dan itu dikerjakan. MOS di sekolah tersebut telah ditutup Rabu (15/7) pukul 13.00,'' jelasnya.

Ditanya mengenai pertunjukan seni yang dilangsungkan hingga malam, menurut Sahudi, itu sudah di luar jadwal MOS. Karena itu, Dispendik menyimpulkan bahwa siswa meninggal ketika tidak lagi mengikuti MOS.

Selain itu, lanjut dia, sekolah telah meminta biodata setiap siswa sesuai yang dipersyaratkan Dispendik. Dalam biodata tersebut juga ditulis riwayat penyakit siswa. Karena itu, jika memang ada siswa yang memiliki riwayat penyakit tertentu, seharusnya hal itu telah ditulis dalam biodata.

Dispendik berpendapat, seluruh protap yang diaplikasikan dalam MOS sudah disesuaikan dengan surat edaran juga. Termasuk, soal tugas-tugas dan barang yang harus dibawa siswa. ''Artinya, jika siswa tidak mampu mencari, ya tidak usah membawa tidak apa-apa,'' tegasnya.

Terkait dengan ada atau tidaknya hubungan tugas-tugas yang diberikan dalam MOS dengan kematian siswa, Sahudi masih belum bisa berkomentar. ''Kalau yang satu itu, kita tunggu hasil visum dokter dan penyelidikan kepolisian,'' ujar pejabat asal Banyuwangi tersebut.

Terkait dengan isu bahwa siswa dilarang memakan nasi selama MOS, Sahudi menyatakan pihaknya belum mendapat laporan mengenai masalah tersebut. Yang jelas, dalam surat edaran, tidak ada hal yang mengacu pada tugas semacam itu.''Yang jelas, tahun depan MOS tetap ada karena pengenalan lingkungan sekolah yang baru tetap dibutuhkan,'' tambahnya.

Polisi Mulai Selidiki

Polisi mulai turun tangan menyelidiki kasus Roy Aditya Putra, siswa SMAN 16 yang tewas seusai mengikuti MOS di sekolahnya. Sejak Rabu malam, sudah sepuluh orang diperiksa terkait dengan kematian siswa kelas X-5 tersebut.

Kemarin, polisi memeriksa empat orang. Rinciannya, dua siswa dan dua pengajar. Yakni, Aldo Armando, teman Roy satu gugus dalam MOS SMAN 16 Surabaya, dan Aditya Novembriantama, teman satu sekolah di SMPN 35 Surabaya dulu.

Pengajar yang diperiksa adalah Wakil Kepala SMAN 16 Edi Soewarno dan Kepala SMPN 35 Hari Purnomo. Keempatnya diperiksa di Mapolsek Tenggilis oleh penyidik Satreskrim Polres Surabaya Timur yang dibeking Polwiltabes Surabaya. ''Kami menyelidiki dari semua sisi karena ingin mendapatkan gambaran penuh terkait kasus ini,'' kata seorang sumber di kepolisian.

Dia menjelaskan, materi pemeriksaan Aldo difokuskan pada apa saja kegiatan MOS SMAN 16 Surabaya. ''Untuk mendapatkan gambaran, apakah kegiatan MOS yang dilakukan sudah terukur dan tidak rentan terhadap orang-orang dengan penyakit tertentu,'' papar sumber tersebut.

Pemeriksaan terkait masalah itu cukup penting. Mengingat, dalam hal ini bisa masuk unsur ''kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain''. Pemeriksaan itu kemudian dikombinasikan dengan pemeriksaan terhadap Aditya Novembriantama, teman satu sekolah Roy saat di SMPN 35.

''Penting untuk mengetahui kebiasaan dan kesehatannya. Minimal untuk mendapatkan semacam second opinion terkait riwayat medis,'' tuturnya.

Hasilnya, diketahui bahwa Roy memang mempunyai kelemahan fisik tertentu. ''Cuma, apa persisnya, perlu konsultasi dengan tim medis,'' ujarnya.

Sementara itu, pemeriksaan terhadap Wakil Kepala SMAN 16 Edi Soewarno lebih terkait dengan soal administrasi dan prosedur MOS di sekolahnya. Kepala SMPN 35 Hari Purnomo diperiksa terkait dengan rekam medis Roy.

Kapolres Surabaya Timur AKBP Samudi mengungkapkan hasil sementara. Diduga, Roy meninggal karena depresi yang sangat berat. Indikasinya adalah warna pankreas Roy yang kemerah-merahan -sebuah indikasi yang menunjukkan adanya gejala depresi. ''Normalnya, pankreas berwarna kuning. Bila merah, berarti ada kelainan,'' ucap perwira dengan dua mawar di pundak tersebut. Selain itu, ada bercak biru di jari-jari dan bibir Roy. Juga, ada indikasi Roy mengalami kekurangan pasokan oksigen.

Sementara itu, Kasatreskrim Polwiltabes Surabaya AKBP Susanto menuturkan, pihaknya belum berani menyimpulkan apa pun. ''Masih terlalu dini. Kemungkinannya masih sangat luas. Apakah ada unsur kelalaian, murni penyakit, atau sebab lain, semua kemungkinan masih sama besar,'' tegas Sikatan 7 (istilah polisi untuk menyebut Kasatreskrim Polwiltabes Surabaya, Red) tersebut.

Kendati hasil otopsi sudah lengkap, dia menyatakan polisi masih harus menyidik lebih lanjut. ''Saya buat ilustrasi. Misalnya, hasil otopsi disebutkan karena sakit jantung. Sekali lagi ini, misalnya lho, kami masih harus memeriksa saksi-saksi lagi. Apakah ada pemicu sakit jantung tersebut. Misalnya, karena bentakan atau kegiatan,'' urainya.

Jadi, menurut Susanto, jalan penyelidikan masih sangat panjang. ''Kalau perlu, kami akan melakukan rekonstruksi,'' tambahnya.

Di bagian lain, otopsi Roy masih belum selesai. Tim forensik RSUD dr Soetomo memutuskan melakukan pemeriksaan tambahan. Hal itu diungkapkan Kepala Lab/Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) FK Unair Prof Dr Med Dr H M. Soekry EK SpF (K) DFM kemarin.

Bagian dari organ tubuh Roy yang dicurigai semula diperiksa di IKF RSUD dr Soetomo. Sejak kemarin, pemeriksaan dipindahkan ke laboratorium Patologi Anatomi. Pemeriksaan yang dilakukan, antara lain, pemeriksaan hispatologi atau pemeriksaan jaringan secara menyeluruh dan pemeriksaan toksikologi untuk memastikan adanya racun dalam tubuh jenazah.

Agar pemeriksaan berlangsung lebih cepat, Soekry meminta pemeriksaan secara cepat atau cito pemeriksaan. ''Biasanya, pemeriksaan bisa berlangsung sampai seminggu. Dengan pemeriksaan secara cepat, diharapkan lebih cepat,'' paparnya.

Dia belum mau berbicara banyak seputar penyebab kematian remaja 15 tahun itu. ''Soal informasi penyebab kematian sementara hanya bisa kami berikan kepada penyidik, yaitu kepolisian,'' ujarnya.

Di SMAN 16, suasana duka menyelimuti sekolah di Jalan Raya Prapen tersebut. Di kelas X-5, nama Roy Aditya P. dengan nomor induk 11663 tercantum di daftar siswa. Guru agama Supandi memimpin 34 siswa berdoa bersama bagi kepergian Roy. Doa bersama juga dilakukan di kelas lain.

Pukul 10.00, seluruh siswa kelas X keluar dari kelas. Mereka berduyun-duyun ke Masjid Baitul Ilmi yang juga di areal SMAN 16. Mereka bersama-sama melakukan salat gaib bagi almarhum Roy. Salat gaib itu tak hanya dilakukan kelas X. Kelas XI dan XII juga melakukan salat tersebut secara bergiliran.

Kepala SMAN 16 Surabaya Abu Djauhari mengungkapkan, pihaknya turut berduka atas meninggalnya Roy. Dia tidak pernah menyangka MOS yang biasa dilakukan setiap tahun itu berujung maut bagi salah seorang anak didiknya. ''Sepanjang saya menjadi kepala sekolah, baru kali ini saya mengalami. Ini benar-benar di luar kekuatan kami,'' ujarnya. (alb/dan/ken/ano/sha/fid/tom)

 


HALAMAN KEMARIN