Selasa, 09 Februari 2010
 
[ Senin, 20 Oktober 2008 ]
Suhu Udara Metropolis Tertinggi Terjadi Pada 20 Hingga 24 Oktober
SURABAYA - Jelang musim penghujan, suhu udara di metropolis terus beranjak naik. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan, suhu udara tertinggi di kota ini bakal terjadi pada 20 hingga 24 Oktober. Kisarannya 36-37 derajat Celsius.

"Saat ini, bisa dikatakan posisi matahari tepat ada di atas Pulau Jawa. Maka, karena letaknya dekat, panas matahari langsung terasa," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMG Juanda Endro Tjahjono kemarin (19/10).

Dia menjelaskan, saat ini, matahari bergerak semu dari arah katulistiwa menuju garis lintang selatan (LS). Fenomena itu terjadi menjelang pergantian musim dari kemarau menuju penghujan. Posisi matahari diperkirakan ada di 6-7 derajat LS, persis dengan derajat lintang sebagian wilayah Jatim, terutama Surabaya. "Selain itu, posisi bumi dan matahari berada dalam titik terdekat. Maka, kondisinya lebih panas jika dibandingkan sebelum-sebelumnya," kata Endro.

Mengapa suhu saat malam juga masih tinggi? Prakirawan cuaca BMG Tanjung Perak Arif Triono menjelaskan, kondisi itu juga disebabkan jarak bumi-matahari yang dekat. "Saat siang, panas matahari terserap ke bumi. Pada malam, panas itu keluar. Makanya, suhu tetap tinggi," kata Arif.

Arif menjelaskan, cuaca yang panas biasanya diikuti penurunan kadar oksigen. Akibatnya, udara menjadi kurang sehat. "Kadar karbon yang kurang baik bagi kesehatan makin tinggi. Apalagi untuk kota seperti Surabaya yang tingkat polusinya masih tinggi," jelasnya.

Tak hanya itu, kemarau yang panas juga disertai peningkatan kadar debu dalam udara. Kualitas air pun menurun. "Air menjadi kurang sehat. Belum lagi jika kondisi air sudah tercemar. Karena itu, masyarakat harus benar-benar mengantisipasi hal ini," ujarnya.

Hentikan Pemanasan Global

Sementara itu, terus meningkatnya suhu udara pada musim kemarau mendapat perhatian berbagai kalangan. Salah satunya dari Global Art Indonesia. Kemarin (19/10) lembaga kursus menggambar tersebut mengadakan kampanye melawan pemanasan global dengan cara unik di Le Ballroom, Pakuwon City.

Mereka mengadakan Pre-National Drawing Competition yang diikuti sekitar 550 anak dengan tema Stop Global Warming. Kompetisi tersebut dibagi menjadi empat kelompok sesuai umur. Kelompok A (4-6 tahun), B (7-9 tahun), C (10-12 tahun), dan D (13 tahun ke atas).

Lombanya pun dibedakan. Kelompok A dan B lebih ke arah mewarnai. Karena itu, kertas yang digunakan untuk perlombaan sudah ada clue-nya (petunjuk). Mereka tinggal menggabungkan titik-titik di beberapa gambar. Setelah itu, baru diwarnai. Namun, peserta tetap diperbolehkan untuk menambah gambar sesuai kreativitasnya. ''Dilihat dari umur, mereka kan masih perlu dibimbing,'' kata pimpinan Global Art Indonesia Timur Lilik Y. Prayugo.

Untuk kelompok C dan D, kertas yang disediakan benar-benar kosong. Jadi, mereka harus menggambar dari awal. Temanya ajakan untuk mengurangi pemanasan global. Para pemenang lomba itu akan mengikuti lomba yang sama tingkat nasional di Jakarta pada 1 November.

Setelah menyelesaikan gambar, anak-anak disuguhi operet maskot festival dengan judul yang sama, Stop Global Warming. Selama 30 menit, mereka dihibur cerita tentang pentingnya menjaga alam yang diperagakan oleh penari Gucci Dance Academy.

Di akhir acara, seluruh peserta berkumpul di halaman Le Ballroom sambil membawa balon berwarna hijau bertulisan Stop Global Warming. Lalu secara bersamaan, balon tersebut dilepaskan ke udara. Saat itu, sorak-sorai anak-anak tercipta. ''Ini sebagai tanda bahwa kami sangat mendukung kampanye menanggulangi dampak pemanasan global,'' tegas Lilik. (ris/jan/fat)

 


HALAMAN KEMARIN