[ Sabtu, 31 Juli 2010 ]
Cinta Budiman, Kolektor Mobil Antik Khusus Dua Pintu
Toyota Tertimbun Sampah, Perlu Sepekan Membersihkan
Usia Cinta Budiman baru menginjak kepala tiga. Namun, dia punya selera tua dalam memilih benda koleksi. Empat tahun terakhir, dia getol mengumpulkan mobil keluaran 1960-1970, khusus yang dua pintu.
ANY RUFAIDAH
---
MOBIL ceper merah jenis Datsun 240Z Fairlady itu dielus pelan. "Ini yang paling saya suka," kata Budi ketika ditemui di bengkelnya di kawasan Gayungsari Minggu lalu. Mobil dua pintu keluaran awal 1970-an itu merupakan mobil kuno pertama yang dia miliki empat tahun lalu. Gara-gara mobil tersebut, dia tergila-gila dengan mobil kuno.
Selain Fairlady, ada sepuluh jenis mobil lain yang berjajar rapi di bengkel itu. Di antaranya, Datsun, Mercedes Benz Classic, dan Toyota Celica. Ada juga puluhan rangka mobil yang sedang diproses atau menunggu perbaikan.
Rata-rata kondisi mobil kuno yang didapatkan Budi kurang baik. "Ada perbaikan di sana-sini. Butuh waktu lama karena saya berusaha pakai spare part seasli-aslinya," katanya.
Saat ini, koleksi Budi tak kurang dari 50 mobil kuno. Pria asal Lawang, Malang, tersebut menyimpan mobil-mobil itu di lima garasi. Selain di rumahnya di kawasan Barata Jaya, bengkel, serta satu gudang di Surabaya, anak ketiga di antara empat bersaudara itu punya dua gudang di Malang. "Kalau lihat mobil sudah bagus, terus dijejer-jejer, hati ini rasanya gimana ya, senang gitu," ungkapnya.
Perkenalan Budi dengan mobil kuno tidak terjadi karena ayah, teman, atau faktor eksternal lainnya. Sekitar 2006, mobil Lexus SC400 miliknya mengalami kecelakaan di jalan tol hingga rusak. Ketika memperbaiki mobil tersebut di sebuah bengkel, dia melihat Fairlady dan langsung jatuh cinta. Sejak saat itu, dia berburu mobil kuno khusus keluaran setelah Perang Dunia II tipe sport classic.
Dia mengungkapkan tak menggandrungi semua jenis mobil kuno. Hanya mobil dua pintu yang jadi preferensinya. "Perbandingannya, mobil empat pintu itu tas biasa, sedangkan yang dua pintu itu tas branded," paparnya. Hobinya itu semacam "balas dendam".
Dulu Budi minta dibelikan mobil dua pintu kepada ayahnya. Tapi, permintaan tersebut ditolak karena tidak cocok untuk keluarga. Saat punya penghasilan sendiri, dia bisa melampiaskan semua rasa cintanya pada mobil dua pintu.
Meski terbilang pemain baru, koleksi pengusaha alat-alat olahraga itu cukup banyak. Sebab, dia sering membeli dengan cara borongan. "Misalnya, saat ada kolektor mobil kuno yang meninggal, sedangkan keluarganya enggan meneruskan perawatan koleksi itu, biasanya mereka langsung menjual semuanya. Jumlahnya bisa belasan sampai puluhan," papar alumnus Fakultas Ekonomi UK Petra Surabaya tersebut.
Setidaknya, dua kali dia membeli dengan sistem borongan. Meski langsung membeli banyak, dia tidak menjadikan semua mobil tersebut koleksi. Setelah memilih mobil yang disukai, sisanya ditawarkan kepada sesama kolektor. Pertama, dia membeli 18 mobil sekaligus dari keluarga kolektor di Porong. Tapi, hanya lima mobil yang dipertahankan. Lantas, dia membeli 32 mobil dari keluarga kolektor di Malang. Dia hanya memilih tujuh di antara 32 mobil tersebut.
Biasanya, Budi mendapatkan mobil-mobil itu dari Malang, Tulungagung, Bali, dan Surabaya. Pada awal-awal menjalani hobinya tersebut, dia kerap ditipu makelar. Dia hanya ditunjukkan foto mobil oleh makelar. Setelah uang muka dibayarkan, makelar minggat. Sekarang, kalau tidak lihat barang, Budi tidak bakal mau beli. Dia selektif karena sudah punya jaringan sesama kolektor mobil kuno yang siap memberikan berbagai informasi.
Banyak kebetulan yang menyertai proses koleksi Budi. Misalnya, ketika dia mendapatkan mobil Fiat 124. Waktu itu, rumahnya dimasuki burung puter jantan. Karena kasihan, dia berniat membeli burung betina. Ketika dia mencari burung puter betina ke pasar burung di Lawang, tidak ada toko yang buka.
Kebetulan, dia bertemu bapak-bapak yang mau memberikan sepasang burung gratis. Dia harus mengambil sendiri burung tersebut di rumah bapak itu. "Hadoh jauhnya. Wis nyelempit pokoknya," ujarnya. Perjalanan tersebut tidak hanya membuahkan burung. Di dekat rumah bapak itu, dia melihat Fiat 124 yang teronggok begitu saja. "Tipenya sport dan setir kiri. Siapa yang nggak ngiler coba? Langsung saya samperin rumah itu," lanjutnya.
Kata si pemilik rumah, mobil tersebut adalah milik orang Jakarta. Banyak orang yang mau membeli mobil itu. Tapi, pemiliknya tidak memperbolehkan. Budi ngotot minta nomor telepon pemilik mobil tersebut. Setelah menunggu setengah jam, dia berhasil menghubungi si pemilik mobil. Budi lantas "diinterogasi" si pemilik tentang serba-serbi mobil antik. Setelah menganggap bahwa Budi cukup tahu, pemilik mobil setuju menjual mobil itu dengan harga Rp 5 juta.
Menurut Budi, interogasi tersebut penting. Sebab, mengoleksi mobil antik butuh perawatan khusus. Karena itu, pemiliknya punya keterikatan dan rasa sayang sehingga berat melepas koleksinya untuk orang lain. Mereka tak mau sembarangan menjual karena takut jika pembeli tidak bisa merawat mobil. Pengalaman itu membuat Budi tekun mempelajari jenis, spesifikasi, sampai harga mobil antik. Dengan demikian, jika menemukan mobil di jalan, dia bisa langsung bertransaksi.
Pernah Budi harus membongkar sampah demi mobil incarannya. Ceritanya, dia mendapat informasi bahwa ada seseorang yang ingin menjual Toyota Soarer. Tempat yang dimaksud adalah toko jam. Ketika minta ditunjukkan mobil itu, dia diajak masuk garasi yang penuh tumpukan sampah, seperti kardus, patahan paralon, dan berbagai perlengkapan rumah tangga yang tak terpakai.
"Isinya sampah tok. Bentuk mobilnya nggak kelihatan. Saya hanya bisa lihat tulisan Toyota Soarer di belakang," ujarnya. Setelah transaksi disepakati, sampah dibersihkan. Pada hari ketiga, baru pintu sebelah kanan yang bisa dibuka. Total butuh waktu sepekan untuk menyingkirkan semua sampah tersebut. Setelah itu, baru mobil tersebut bisa dibawa pulang.
Budi bersyukur karena istrinya, Linawati, mendukung hobinya yang butuh dana tak sedikit tersebut. Sebab, sebelum menikah pada 2007, Lina tahu bahwa Budi suka mengumpulkan mobil kuno. "Saya juga tahu bahwa dia mengoleksi tas. Jadi, kalau saya beli mobil, ya saya harus ngerti sendiri lah buat belikan dia tas," paparnya. (*/c12/cfu)