BAGHDAD - Militer Amerika Serikat (AS) resmi menjalankan Operasi Fajar Baru di Iraq kemarin (1/9). Artinya, Operasi Pembebasan Iraq sejak 20 Maret 2003 berakhir sudah. Tidak ada lagi pasukan tempur Negeri Paman Sam yang bertugas di Iraq. Yang tersisa hanyalah pasukan nontempur, pendukung stabilitas pemerintahan.
Wakil Presiden Joseph "Joe" Biden dan Menteri Pertahanan Robert Gates berada di Iraq untuk menyaksikan transisi operasi militer AS kemarin. Biden yang tiba di Baghdad pada Senin waktu setempat (30/8) bergabung dengan Gates yang baru tiba di Kamp Ramadi kemarin. Selanjutnya, mereka bertolak ke Al Faw Palace -bekas pondok berburu mendiang Presiden Saddam Hussein di dekat Bandara Internasional Baghdad- untuk menghadiri upacara transisi yang diselenggarakan di sana.
"Sejarah akan membuktikan, apakah perang yang sudah resmi berakhir ini berharga bagi AS," kata Gates seperti dikutip Associated Press kemarin. Menurut dia, premis yang disusun pemerintahan mantan Presiden George W. Bush sebelum menginvasi Iraq pada 2003 ternyata benar. Tapi, dia juga menyadari bahwa Operasi Pembebasan Iraq yang diwarnai banyak pertumpahan darah itu akan selalu dikritik masyarakat internasional.
Apalagi, tudingan Bush bahwa mendiang Saddam memiliki senjata pemusnah masal terbantahkan. Setelah diktator Iraq itu terguling, pasukan AS tetap tidak menemukan senjata biologi yang dimaksud. Namun, dengan tertangkapnya Saddam, terungkap sejumlah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pemimpin kelahiran Tikrit itu. Di antaranya, pembantaian masal di Dujail pada 1982, pembunuhan 148 warga sipil, serta penyiksaan anak-anak dan perempuan.
Berbeda dengan Gates yang bertugas menginspeksi sekitar 49.700 serdadu nontempur di Kamp Ramadi, sekitar 100 kilometer sebelah barat ibu kota, tugas Biden adalah berdialog dengan para pemimpin Iraq. Karena itu, tokoh senior Partai Demokrat tersebut datang lebih dahulu. Setiba di Baghdad, Biden langsung bertemu Presiden Jalal Talabani dan Perdana Menteri (PM) Nuri al-Maliki. Dia kembali menegaskan dukungan AS terhadap proses pembentukan pemerintahan baru Iraq.
Pernyataan senada dipaparkan Presiden Barack Obama dalam pidato prime time-nya Selasa malam waktu AS (31/8) atau kemarin pagi WIB. Dari Oval Office, pemimpin 48 tahun itu mengimbau rakyat Iraq bersatu untuk mendukung pemerintahan baru yang segera terbentuk. "Malam ini saya umumkan bahwa misi tempur AS di Iraq sudah berakhir," tegasnya seperti dikutip Agence France-Presse kemarin. Tapi, purnanya misi militer itu, menurut dia, tidak perlu dirayakan dengan kemeriahan.
Kemarin operasi militer yang sarat pertempuran tersebut resmi berakhir. Posisi komandan pasukan AS di Iraq yang dipegang Jenderal Ray Odierno sejak 2008 pun beralih ke Letjen Lloyd Austin. Dengan demikian, Odierno yang menggantikan Jenderal David Petraeus itu genap bertugas 56 bulan. (hep/c10/dos)