[ Rabu, 12 Agustus 2009 ]
Ahmad Arif Hermansyah, Empat Tahun "Pulihkan" Nama dari Jaringan
Noordin M. Top
Bebas dari Bui, Tekuni Konter HP di Rumah Kakek
Meski sempat merasakan pengapnya penjara, Ahmad Arif Hermansyah tetap kukuh pada pengakuannya dia tidak pernah terlibat dalam jaringan Noordin M. Top. Vonis hukuman yang menimpanya pun dia anggap sebagai kesalahan.
---
TAK seperti gambaran pengikut Islam garis keras umumnya, Ahmad Arif Hermansyah, 30, tampil apa adanya. Pakai kacamata dan kepala ditutupi topi berlogo Eiger, laki-laki bertubuh tinggi besar itu tampak santai dengan baju lengan pendek warna merah marun.
"Alhamdulillah sudah setahun ini jalan Mas. Setelah keluar dari penjara, saya menjalani usaha ini," kata Arif kepada Jawa Pos di rumah belakang konter handphone miliknya di kawasan Kenjeran, Surabaya, kemarin.
Setelah bebas dari penjara pada 18 Juli 2008 silam, Arif mengaku sempat kebingungan. Pasalnya, usai di penjara, dia tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. Terakhir, dia bekerja di sebuah perusahaan outsourcing milik PLN sebelum ditangkap Densus 88 pada 2005.
Beberapa bulan menganggur, menjelang Ramadan tahun lalu, dia kemudian berinisiatif membuka konter HP itu. Selain karena memiliki keahlian di bidang ini, Arif menggunakan rumah milik kakeknya yang dekat tepi jalan sebagai tempat usahanya. "Keluarga (istri dan anak) masih ikut orang tua di Tuwowo (sebuah perkampungan di Surabaya, Red)," katanya.
Menurut Arif, dia bisa menikmati kehidupannya sekarang. Apalagi, dia telah dikaruniai seorang anak berusia tiga tahun. Hanya saja, sampai hari ini dia mengaku masih bingung dengan tuduhan yang masih mengaitkan dirinya sebagai pengikut Noordin M Top. Tuduhan itu pula yang dulu membuat dia masuk bui. "Sebab, jujur saya tidak pernah berhubungan dengan jaringan Noordin. Melihat wajahnya pun saya tidak pernah," kata Arif.
Selain itu, sejak kali pertama ditangkap polisi dengan tuduhan ikut membantu jaringan teroris, Arif mengaku tidak tahu menahu. Apalagi, sejak dia dinyatakan bebas usai menjalani hukuman tiga tahun penjara, praktis dia sama sekali tidak pernah berhubungan dengan jaringan apa pun.
Arif lantas menceritakan kasus yang membuat dia ditangkap polisi pada 2005 karena diduga terlibat jaringan teroris. Gara-garanya, saat itu mendapat titipan dalam bentuk kotak kardus dari seorang bernama Untung (diduga jaringan Noordin yang hingga kini belum diketahui keberadaannya). Nah, polisi menyebut jika paket itu berisi TNT yang dipakai dalam peledakan kantor Kedutaan Besar Australia pada 2004.
Pada pasca penangkapan, awalnya polisi menyebut jika Arif masuk dalam jaringan Noordin. Namun, akhirnya dia divonis penjara dengan dakwaan ikut membantu kegiatan terorisme. "Dan hingga kini, tidak ada bukti valid jika paket kardus itu berisi TNT," katanya.
Dia juga membantah keterlibatannya dalam jaringan teroris. Baik itu Noordin M. Top maupun almarhum Dr Azhari. Dia menduga, aparat mengaitkan dirinya dengan jaringan ini karena aktivitasnya dalam beberapa organisasi maupun forum kajian keislaman di Surabaya.
"Saya tidak pernah mengenal, bertemu, dan berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan Noordin M. Top selama hidup saya," katanya
Sejak masih duduk di SMA, Arif memang aktif di berbagai organisasi keislaman. Termasuk, ketika menjalani masa kuliah di Institut Tekonologi 10 Nopember (ITS) Surabaya, Arif juga terlibat aktif di organisasi serupa. Tidak hanya di internal kampus, tapi juga di luar.
Dari aktivitasnya itulah, Arif kenal dengan beberapa orang yang diduga anggota jaringan Noordin M Top. Dia tak mau menyebut satu per satu mereka. "Salah satunya Ustad Usman," katanya singkat.
Hanya saja, Arif menegaskan jika perkenalannya dengan orang-orang itu hanya sebatas hubungan mencari ilmu agama. Dia tak pernah ikut-ikutan dalam kegiatan berbau terorisme. "Karena itu, saya agak kecewa ketika aparat selalu mengait-ngaitkan saya dengan jaringan mereka," katanya.
Apalagi, dari pengalamannya selama diperiksa sebagai tersangka, banyak kejanggalan yang dialaminya. Dia banyak diberondong pertanyaan yang tidak dia ketahui seputar jaringan teroris.Termasuk tudingan dia anggota sel aktif Noordin. "Sampai akhirnya saya tetap dihukum karena menerima titipan itu," katanya.
Usai keluar dari penjara, dia ingin hidup seperti semula. Termasuk kembali memulihkan citranya. "Tidak mudah untuk memulihkan citra itu. Karena itu, saya agak kaget ketika nama saya disebut-sebut lagi," katanya. (ris)