Kamis, 02 September 2010
 
  Berita Utama
[ Rabu, 12 Agustus 2009 ]
Ahmad Arif Hermansyah, Empat Tahun "Pulihkan" Nama dari Jaringan Noordin M. Top
Bebas dari Bui, Tekuni Konter HP di Rumah Kakek

Meski sempat merasakan pengapnya penjara, Ahmad Arif Hermansyah tetap kukuh pada pengakuannya dia tidak pernah terlibat dalam jaringan Noordin M. Top. Vonis hukuman yang menimpanya pun dia anggap sebagai kesalahan.

---

TAK seperti gambaran pengikut Islam ga­ris keras umumnya, Ahmad Arif Her­mansyah, 30, tampil apa adanya. Pa­kai kacamata dan kepala ditutupi topi berlogo Eiger, laki-laki bertubuh tinggi besar itu tampak santai dengan baju lengan pendek warna merah marun.

"Alhamdulillah sudah setahun ini jalan Mas. Setelah keluar dari penjara, saya men­jalani usaha ini," kata Arif kepada Jawa Pos di rumah belakang konter handphone miliknya di kawasan Kenjeran, Surabaya, kemarin.

Setelah bebas dari penjara pada 18 Juli 2008 silam, Arif mengaku sempat ke­bingungan. Pasalnya, usai di penja­ra, dia tidak lagi memiliki pekerjaan te­tap. Terakhir, dia bekerja di sebuah per­usahaan outsourcing milik PLN se­belum ditangkap Densus 88 pada 2005.

Beberapa bulan menganggur, menjelang Ramadan tahun lalu, dia kemudian berinisiatif membuka konter HP itu. Selain karena memiliki keahlian di bi­dang ini, Arif menggunakan rumah mi­lik kakeknya yang dekat tepi jalan sebagai tempat usahanya. "Keluarga (istri dan anak) masih ikut orang tua di Tuwowo (sebuah perkampungan di Surabaya, Red)," katanya.

Menurut Arif, dia bisa menikmati ke­hi­dupannya sekarang. Apalagi, dia te­lah dikaruniai seorang anak berusia ti­ga tahun. Hanya saja, sampai hari ini dia mengaku masih bingung dengan tu­duhan yang masih mengaitkan diri­nya sebagai pengikut Noordin M Top. Tuduhan itu pula yang dulu membuat dia masuk bui. "Sebab, jujur saya tidak per­nah berhubungan dengan jaringan Noor­din. Melihat wajahnya pun saya tidak pernah," kata Arif.

Selain itu, sejak kali pertama ditangkap polisi dengan tuduhan ikut memban­tu jaringan teroris, Arif mengaku tidak ta­hu menahu. Apalagi, sejak dia dinyatakan bebas usai menjalani hukuman tiga tahun penjara, praktis dia sama sekali tidak pernah berhubungan de­ngan jaringan apa pun.

Arif lantas menceritakan kasus yang membuat dia ditangkap polisi pada 2005 ka­rena diduga terlibat jaringan teroris. Gara-garanya, saat itu mendapat titipan da­lam bentuk kotak kardus dari seorang bernama Untung (diduga jaringan Noordin yang hingga kini belum diketahui keberadaannya). Nah, polisi menyebut jika paket itu berisi TNT yang dipakai da­lam peledakan kantor Kedutaan Besar Australia pada 2004.

Pada pasca penangkapan, awalnya po­lisi menyebut jika Arif masuk dalam ja­ringan Noordin. Namun, akhirnya dia di­vonis penjara dengan dakwaan ikut mem­bantu kegiatan terorisme. "Dan hing­ga kini, tidak ada bukti valid jika pa­ket kardus itu berisi TNT," katanya.

Dia juga membantah keterlibatannya da­lam jaringan teroris. Baik itu Noordin M. Top maupun almarhum Dr Azhari. Dia menduga, aparat mengaitkan dirinya dengan jaringan ini karena akti­vi­tasnya dalam beberapa organisasi mau­pun forum kajian keislaman di Surabaya.

"Saya tidak pernah mengenal, bertemu, dan berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan Noordin M. Top selama hidup saya," katanya

Sejak masih duduk di SMA, Arif memang aktif di berbagai organisasi keislaman. Termasuk, ketika menjalani masa kuliah di Institut Tekonologi 10 Nopember (ITS) Surabaya, Arif juga terlibat aktif di organisasi serupa. Tidak hanya di internal kampus, tapi juga di luar.

Dari aktivitasnya itulah, Arif kenal de­ngan beberapa orang yang diduga anggota jaringan Noordin M Top. Dia tak mau menyebut satu per satu mere­ka. "Salah satunya Ustad Usman," ka­tanya singkat.

Hanya saja, Arif menegaskan jika per­kenalannya dengan orang-orang itu ha­nya sebatas hubungan mencari ilmu aga­ma. Dia tak pernah ikut-ikutan dalam kegiatan berbau terorisme. "Kare­na itu, saya agak kecewa ketika aparat selalu mengait-ngaitkan saya dengan ja­ringan mereka," katanya.

Apalagi, dari pengalamannya selama di­periksa sebagai tersangka, banyak kejanggalan yang dialaminya. Dia banyak diberondong pertanyaan yang tidak dia ketahui seputar jaringan teroris.Termasuk tudingan dia anggota sel aktif Noordin. "Sampai akhirnya saya tetap dihukum karena menerima titipan itu," katanya.

Usai keluar dari penjara, dia ingin hidup seperti semula. Termasuk kembali memulihkan citranya. "Tidak mudah untuk memulihkan citra itu. Karena itu, saya agak kaget ketika nama saya disebut-sebut lagi," katanya. (ris)