[ Senin, 23 Februari 2009 ]
Muslim di Teluk Mengulurkan Tangan?
Hampir setiap saat menyalakan TV, saya melihat tayangan yang terkait terorisme dan Islam. Jargon-jargon yang konsisten digunakan dalam kebanyakan tayangan itu, antara lain, adalah ''islamis'', ''ekstremis muslim'', atau ''teroris Islam''. Setelahnya, akan muncul adegan kekacauan dan pembunuhan yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Saya berharap, saya tahu siapa yang menciptakan kata-kata itu agar setidaknya saya bisa membelalakkan mata kepada mereka karena kurangnya kreativitas mereka. ?Tetapi, pertanyaan saya, apa hubungan Islam dengan hal tersebut?
Sebagai seorang mualaf, saya kesal dengan cara media menyamaratakan pencitraan terhadap semua orang Islam. Hanya karena seorang teroris kebetulan beragama Islam, Islam pun dinyatakan sebagai akar dari kejahatannya. Sayang, ada banyak teroris di dunia ini yang bukan muslim. Dan, dari apa yang saya perhatikan, agama mereka jarang dikaitkan dengan kejahatan-kejahatan mereka.
Saya tidak pernah mendengar atau melihat istilah-istilah seperti ''Kristen fundamentalis'' atau ''Hindu ekstremis'' mengawali cerita tentang seorang nonmuslim yang melakukan sebuah aksi teror. Mereka dilabeli sesuai dengan kejahatan yang mereka lakukan: teroris misalnya, dan agama mereka tidak dihubungkan dengan hal tersebut. Asal cap seperti itu sebetulnya menjadi beban bagi muslim di seluruh dunia.
Dengan populasi global sekitar 1,5 miliar, hampir semua muslim adalah warga negara yang cinta damai dan tidak pernah bermimpi menyakiti siapa pun. Tidak mengherankan jika mayoritas muslim adalah warga negara yang taat hukum. Koeksistensi penuh damai dan toleransi agama pun sudah diperintahkan berabad-abad lalu dalam Alquran.
Beberapa orang yang menyebut diri mereka muslim yang memang terlibat dalam aksi-aksi teror itu tidak pernah mempelajari Alquran atau telah memutarbalikkan ayat untuk melayani tujuan-tujuan jahat mereka sendiri. Sayangnya, tujuan-tujuan itu sering lebih terkait politik, properti, atau nasionalisme daripada dengan Islam sendiri.
Karena Islam dan terorisme terus disatukan dalam media, tanpa memandang betapa tidak adilnya hal tersebut, kewajiban seluruh muslim untuk menyangkal terorisme di mana pun dia bersembunyi.
Tetapi, muslim harus berbuat lebih banyak daripada hanya berkoar-koar menyangkal kejahatan itu. Menjadi tugas seluruh muslim, dengan demikian, untuk merebut kembali agama kita dari mereka yang mencoba mencemarkan nama baiknya. Hanya menegaskan bahwa Islam adalah agama damai saja tidaklah cukup.
Kita harus menunjukkan pesan damai Islam melalui tindakan-tindakan kita sehari-hari. Dan, itu memang sangat sulit di tengah media massa yang terus menggunakan jargon-jargon yang saya sebut di atas. Tetapi, betapa pun sulitnya, semua muslim harus tetap menampilkan pesan yang tepat tentang Islam.
***
Sebagai orang yang tinggal di kawasan teluk, mudah bagi kita untuk menghabiskan waktu dan berbaur dengan sesama muslim. Toh, muslim memang merupakan mayoritas di Timur Tengah. Namun, ada ekspatriat-ekspatriat nonmuslim di sekitar kita. Mengulurkan tangan persahabatan kepada mereka dalam perdamaian. Membukakan jalan untuk saling memahami akan berdampak baik untuk pembangunan persahabatan antara berbagai agama dan budaya.
Melakukan upaya seperti itu bisa menimbulkan efek berantai yang cukup besar. Niat baik yang dilahirkan dari aksi-aksi tersebut dapat menjangkau sudut-sudut terjauh di muka bumi ini. Sebab, para ekspatriat itu akan kembali ke tanah air mereka dan bisa berbagi dengan yang lain tentang kedamaian Islam yang mereka rasakan secara langsung.
Sumayyah Meehan, penulis Amerika yang tinggal di Kuwait. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) Sumber: Khaleej Times, 15 Februari 2009.
Telah memperoleh hak cipta