Sabtu, 11 September 2010
 
  Berita Utama
[ Sabtu, 31 Juli 2010 ]
Tabung Gas Elpiji 12 Kg Lebih Sering Meledak
Kemenko Kesra Kutip Kajian Puslabfor Polri

JAKARTA - Tim Koordinasi Evaluasi Kecelakaan Elpiji merilis data baru terkait dengan tingginya ledakan di sejumlah wilayah di Indonesia. Tim yang diketuai Sekretaris Menko Kesra (Sesmenko Kesra) Indroyono Soesilo itu menyatakan bahwa telah terjadi perubahan tren kejadian ledakan tabung gas elpiji. Sebelumnya, kecelakaan tabung gas banyak terjadi pada tabung elpiji 3 kilogram (kg). Tetapi, kini ledakan tabung gas di masyarakat lebih banyak terjadi pada tabung isi 12 kg.

''Fenomena ini terjadi lantaran maraknya tindak pengoplosan gas. Itu akan menjadi fokus penegak hukum untuk diburu dan ditertibkan,'' ujar Indroyono di Kantor Kemenko Kesra, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, kemarin (30/7).

Indroyono kemudian merilis data Puslabfor Mabes Polri yang melakukan kajian di sejumlah kota utama di tanah air. Yakni, Jakarta, Medan, Surabaya, Palembang, Manado, Semarang, dan Denpasar. Data itu menyebutkan, sepanjang 2010, 16 kecelakaan bocor gas terjadi pada tabung gas isi 3 kg. Sedangkan kejadian ledakan pada tabung gas 12 kg lebih banyak, yakni 29 kasus kecelakaan.

''Itu menunjukkan tindak penyuntikan gas secara ilegal dari tabung isi 3 kilogram ke tabuing 12 kilogram semakin marak,'' tutur Indroyono.

Menurut dia, banyaknya pengoplosan gas elpiji itu tecermin dari temuan pihak kepolisian yang dilaporkan kepada Kemenko Kesra. Selain itu, Mabes Polri menemukan bahwa agen gas elpiji resmi yang ditunjuk oleh PT Pertamina dan berinisial PT SUP di wilayah Bantar Gebang, Bekasi, menyuntik hingga 800 tabung per hari.

Penyuntikan diduga dilakukan karena disparitas harga antara tabung gas elpiji 3 kg dan 12 kg sebesar Rp 1.600 per kg. Jika harga satu tabung gas elpiji 3 kg adalah Rp 11.750 dan 12 kg sebesar Rp 62 ribu, agen tabung gas yang melakukan penyuntikan 800 tabung setiap hari akan memperoleh keuntungan Rp 16 juta. Dalam sebulan, keuntungannya Rp 266 juta. ''Besarnya keuntungan itu yang memicu hal tersebut (pengoplosan dan penyuntikan),'' kata dia.

Praktik serupa, lanjut Indroyono, juga dilakukan PT AM di daerah Curug, Bogor, dan beberapa agen di daerah Jati Asih, Bekasi. Modus pengoplosan dilakukan dengan menusuk katup tabung gas (valve) dengan besi sehingga rusak. Katup rusak itulah yang kemudian memicu ledakan tabung gas 12 kg.

Ditemui setelah acara UE-ASEAN High Level Expert Workshop di Jakarta, mantan Wapres M. Jusuf Kalla (JK) meminta pemerintah meminimalkan selisih harga tabung 3 kg dan 12 kg. Hal itu perlu ditempuh untuk mencegah kriminalitas yang memicu terjadinya ledakan.

''Disparitasnya (selisih harga elpiji tabung 3 kg dan 12 kg) 38 persen. Masing-masing gas itu sekitar Rp 4.300 dan Rp 5.800 per kg. Maka, selisih harga itu harus diperkecil. Caranya, yang satu dinaikkan jadi Rp 4.500 dan yang satu diturunkan menjadi Rp 5.500,'' saran Kalla.

Dia menjelaskan, pada 2008 perbedaan harganya hanya Rp 1.000, tetapi kemudian meningkat terus. Karena perbedaan harga yang terlalu jauh, akhirnya muncul kriminalitas. Banyak agen menyuntikkan isi tabung gas 3 kg ke tabung 12 kg. Akibatnya, tabung gas rusak. (zul/pri/c4/dwi)